Kebiasaan baru Ketika virus berbahaya datang

        Pada bulan Maret 2020, Covid -19 diumumkan oleh presiden jok Widodo. Itu merupakan kasus pertama Covid-19 masuk ke negara tercinta ini. Dengan sekiat tenaga para tim medis melakukan yang terbaik untuk pasien yang terkena Covid-19. Begitu juga dengan pemerintah, mereka melakukan melakukan Langkah Langkah mitigatif dan penanganan semaksimal mungkin agar virus yang berbahaya tidak menyebar dan membawa korban jiwa. Bermacam-macam kebijakan untuk mencegah menularnya virus ini. Mulai dari physical distancing , hingga pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Pada saat itu pemerintah juga melarang untuk mudik yang mendekati hari raya Idul Fitri. Pemerintah juga menghimbau kepada sekolah sekolah untuk ditutup selama masa pandemic dan melakukan pembelajaran secara daring atau online. 

Presiden Joko Widodo juga menghimbau atas wajibnya memekai masker, tidak boleh berkerumun, tidak adanya bersentuhan satu sama lain sampai pandemi Covid-19 benar benar hilang dari peradaban. Berbagai cara dilakukan untuk menghimbau masyarakat supaya tidak berkerumun, tidak saling bersentuhan, memakai masker diluar ruangan maupun didalam ruangan. Dari yang diberi peringatan sampai yang dikenakan sanksi karena tidak memakai masker. Akan tetapi masyarakat masih tidak bisa ditertibkan. Banyak masyarakat yang tidak mau mengikuti larangan dari pemerintah.  Dengan tidak bisanya masyarakat mengikuti apa yang disampaikan pemerintah, maka terjadilah penularan besar besaran ditanah air tercinta ini. 

Anjuran yang harus dilakukan bukan Cuma itu. Adanya anjuran menuci tangan sehabis beraktifitas, menjaga jarak maksimal 1 meter dan lain sebagainya. Anjuran- anjuran itu dibuat untuk diri kita sendiri, untuk negara kita sendiri dan untuk keluarga kita sendiri supaya Covid-19 bisa mereda dan menghilang dari tanah air ini. Kita seharusnya berfikir bagaimana lelahnya tim medis yang kewalahan atas meningkatnya pasien Covid-19. Virus ini tidak akan menyebar jika kita mematuhi Protokol kesehatan yang di dihimbau oleh pemerintah. 

Kebiasaan kebiasaan itu tertanam didalam diri kita sendiri, walau tidak semua, tetapi saya sendiri merasa kebiasaan-kebiasaan itu masih menempel didiri saya. Dari yang jarang memakai masker jadi memakai maser, dari yang cuci tangan nya hanya sekilas jadi mengikuti cara yang benar cuci tangan, dan lain sebagainya. Itu dikarenakan virus yang melanda (Covid-19) 2 tahun yang lalu. Dengan kebiasaan-kebiasaan itu kita jadi pribadi yang hidup bersih, jauh dari hidup yang kotor dikarenakan virus yang merajalela 2 tahun yang lalu. Dengan begitu etika kita untuk bersosialisasi dimasa transisi ini harus menjadi lebih baik dari sebelum-sebelumnya. Dari yang kita tidak menyapa satu sama lain menjadi menyapa  dengan sesama. Selalu tersenyum dan menghormati satu sama lain. 


Nama : Muhammad Rasyadan Ridwan

Prodi  : Sastra Indonesia

Fakultas : Bahasa dan seni

Komentar